Jumat, 20 Agustus 2010

Kebahagiaan


Kesulitan hidup yang dihadapi seringkali membuat kita tidak sanggup berpikir. Emosi yang dirasakan begitu kuat sehingga menghalangi pikiran. Namun Allah telah berjanji untuk menolong. Mazmur 37:5 "Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan Ia akan bertindak"

Satu kata ini didambakan oleh setiap orang. Berbagai macam cara digunakan untuk memperoleh kebahagiaan. Ada yang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, ada yang mengejar kekuasaan dan pengaruh, ada yang mencari teman dan sahabat sebanyak-banyaknya, untuk membuat dirinya bahagia.

Apapun yang bisa ditemukan di dunia ini, kita tahu tidak akan cukup untuk memberikan kebahagiaan yang abadi. Kebahagiaan abadi adalah ketika kita tahu di dalam iman, perhentian yang kekal telah disediakan Allah bagi kita. Perhentian ini tersedia di dalam kasih karunia-Nya, Yesus Kristus yang hadir ke dunia ini dan membukakan jalan menuju perhentian itu bagi kita. Terimalah dengan iman, dan nikmati kebahagiaan Anda di dalam hidup ini.

Rabu, 05 Mei 2010

Penurunan Kelulusan UN Indikator Peningkatan Kejujuran


Penurunan Kelulusan UN Indikator Peningkatan Kejujuran

SEMARANG--MI: Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan Prof Mungin Eddy Wibowo menilai penurunan tingkat kelulusan dalam Ujian Nasional 2010 menunjukkan peningkatan kejujuran dalam pelaksanaannya.

"Penurunan tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) 2010 ini memang terjadi di beberapa daerah. Hal itu dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah adanya peningkatan kejujuran dalam pelaksanaannya," katanya di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (28/4).

Menurut dia, kejujuran memang menjadi tema dalam pelaksanaan UN tahun ini, yakni bagaimana siswa dapat berprestasi namun harus jujur dalam menggapainya, termasuk kejujuran berbagai pihak yang terlibat dalam pelaksanaan UN.

"Tema kejujuran itu diperkuat dengan penandatanganan pakta kejujuran oleh berbagai pihak, mulai dari tingkat pusat hingga dinas pendidikan tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk berkomitmen terhadap kejujuran," katanya.

Ia mengatakan, penilaian tingkat kejujuran dalam pelaksanaan UN 2010 yang lebih tinggi dibandingkan pelaksanaan UN tahun-tahun sebelumnya juga diperoleh berdasarkan peta kejujuran yang dimiliki BSNP.

"Kami memiliki peta kejujuran untuk mengukur dan memetakan potensi kejujuran atau kecurangan yang terjadi, dan tahun ini ternyata tingkat kejujuran dalam pelaksanaan UN lebih tinggi," kata Mungin yang juga mantan Ketua BSNP itu.

Terlebih lagi, kata dia, pihak yang terlibat dalam pelaksanaan UN tahun ini, termasuk terkait pengawasan dan pemantauan memang lebih banyak, sehingga potensi-potensi kecurangan dapat ditekan seminimal mungkin.

"Dalam pelaksanaan UN tahun ini juga ada UN ulangan bagi siswa yang tidak lulus UN utama dan susulan, sehingga para siswa tentunya enggan berbuat tidak jujur dan lebih terpacu untuk mengasah kemampuannya sendiri," katanya.

Para siswa pasti lebih memilih mengandalkan dan mengasah kemampuan sendiri dalam mengerjakan UN, lanjutnya, sebab kalau mereka sampai tidak lulus UN utama masih ada kesempatan satu kali lagi di UN ulangan.

Namun, ia mengakui bahwa penurunan tingkat kelulusan UN bisa disebabkan kurangnya upaya pihak sekolah untuk memacu dan menyiapkan siswanya dalam menghadapi UN, baik persiapan secara materi maupun mental.

Ditanya tentang penurunan kelulusan UN karena dampak majunya jadwal UN, ia membantahnya, sebab sosialisasi ke seluruh pihak terkait majunya jadwal UN 2010 dibandingkan tahun lalu sudah dilakukan sejak lama.

"Kami sudah melakukan sosialisasi sejak Oktober 2009 bahwa jadwal UN yang biasanya diselenggarakan bulan April dimajukan menjadi Maret, karena harus menyesuaikan dengan jadwal UN ulangan," katanya.

Oleh karena itu, kata Mungin, majunya jadwal penyelenggaraan UN 2010 tidak bisa dijadikan alasan yang menyebabkan penurunan tingkat kelulusan, sebab waktu yang diberikan kepada sekolah untuk persiapan sudah dianggap cukup. (Ant/OL-03)

_mediaindonesia.com_

Sri Mulyani Ditumbalkan Demi Suasana Politik yang Kondusif

JAKARTA - Mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menimbulkan beragam reaksi. Politisi dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) Hendrawan Supratikno menilai Menkeu sengaja dikorbankan oleh pihak-pihak tertentu.

"Kalau dalam teori konspirasi dia seperti dikorbankan oleh kelompok mafia," terang mantan anggota Pansus Hak Angket Bank Century itu kepada okezone via telepon, Kamis (6/5/2010).

Sri, sambung dia, juga sengaja dikorbankan untuk menciptakan suasana politik yang kondusif dan adem serta suasana kabinet yang lebih kooperatif. "Karena selama ini dia bersitegang terus dengan orang-orang partai, sehingga dia dikorbankan untuk itu," imbuhnya.

Hendrawan melihat sosok Sri yang lebih condong mendengarkan suara dunia barat yang notabene bermazhab neolib itu lah yang membuat Sri tidak disukai orang. "Dia dianggap tidak bisa diajak kerjasama, dianggap mengusung neolib dan lebih mendengar suara Washington. Bukankan itu kritik yang sudah lama dilontarkan para ekonom bermazhab nasionalis?," paparnya.

Atas beragam tudingan dan serangan dari lawan-lawannya, Anggota Komisi VI itu berharap Sri dapat menerimanya dengan lapang dada. "Mudah-mudahan dia dapat menerima ini dengan hati yang tabah," harapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Sri Mulyani Indrawati mundur sebagai Menteri Keuangan dan menerima posisi Managing Director dari World Bank. Keputusan Sri ini disambut dengan beragam di masyarakat, ada yang mendukung ada juga yang menyayangkan.

Presiden SBY pun merestui keputusan Sri. Menteri Keuangan yang tahun ini banyak disorot publik karena terseret skandal Bank Century itu akan berkantor di Washington, Amerika Serikat mulai 1 Juni mendatang.(bul)(mbs)


_okezone.com_


Guru Harus Kembangkan Tradisi Ilmiah


Guru Harus Kembangkan Tradisi Ilmiah


Para guru harus mengembangkan tradisi ilmiah.Tradisi ini dibangun dari tradisi membaca sejak dini dan dimulai dari keluarga. Selain itu, guru juga perlu mengembangkan budaya berpikir.

Guru juga harus membiasakan dan mencontohkan peserta didik untuk menulis. Tradisi ilmiah guru dikembangkan dengan membaca, berpikir, dan menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan. Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pendidikan Nasional (Ka Biro PKLN Kemendiknas) Agus Sartono, mewakili Menteri Pendidikan Nasional, saat membuka Lokakarya Tradisi Ilmiah Guru di Kemendiknas, di Jakarta. “Kita perlu mengembangkan budaya giat belajar untuk mengajar dan belajar sepanjang hayat, mengajar sepanjang zaman. Guru boleh meninggal dunia,namun tulisannya akan terus mengajar hingga kiamat,”kata Agus.

Agus mengungkapkan, tradisi ilmiah di lingkungan guru dan dosen masih rendah. Hal ini, kata dia, dapat dilihat dari indikator karya ilmiah guru.Dia menyebutkan,dari 2,6 juta guru di Indonesia untuk guru golongan IVB hanya 0,87% yangmelakukantradisiilmiah,guru golongan IVC sebanyak 0,07%,dan golongan IVD sebanyak 0,02%. “Persyaratan untuk naik (ke golongan) IVB tidak hanya cukup dengan mengumpulkan angka kredit mengajar saja,tetapi salah satu komponennya menulis karya ilmiah,” ujar Agus. Sementara, kata Agus, jumlah publikasi ilmiah nasional dosen sebanyak 6%,sedangkan publikasi ilmiah internasional dosen 0,2%. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, kata dia, terus mendorong para dosen untuk melakukan penelitian dengan berbagai program.

“Sekarang sedang dipikirkan oleh pemerintah untuk membuat dana abadi pendidikan. Salah satu komponennya adalah untuk riset,”ujarnya. Untuk meningkatkan tradisi ilmiah guru, kata Agus, pemerintah mulai dengan memberikan beasiswa peningkatan kualifikasi S-1 dan D-4. Selain itu, kata dia, dengan tunjangan sertifikasi diharapkan guru-guru lebih giat lagi menulis. “Kalau dia (guru) giat menulis, maka angka kreditnya akan semakin besar. Dia akan naik pangkat dan kualifikasinya akan semakin baik,”katanya. Ketua UNITWIN-UNESCO Johannes Gunawan menyampaikan, salah satu kondisi guru di Indonesia yang memerlukan pengembangan lebih lanjut adalah kemampuan guru pada umumnya yang belum terbiasa dengan tradisi ilmiah atau scientific tradition.

Sebagian besar guru, kata dia,belum memiliki kompetensi dalam penulisan karya ilmiah.“Hal ini terjadi di berbagai bidang, baik tentang substansi keilmuan yang diembannya maupun tentang metode pembelajaran,” katanya. Penyebabnya, kata Johannes, antara lain karena berbagai keterbatasan yang dihadapi guru, baik dalam mengakses informasi melalui perangkat keras untuk melakukan telusur informasi maupun penguasaan metode ilmiah oleh guru. Selain itu,kata dia,masih terdapat kelangkaan berbagai wahana atau pola pengembangan ilmu dan keterampilan guru di mana guru dapat bertukar dan berbagi informasi yang penting bagi peningkatan profesionalismenya.

Johannes mengatakan, UNITWIN-UNESCO,sebagai salah satu UNESCO chair di Indonesia, bertugas mengembangkan hak untuk pendidikan. “Lokakarya ini bertujuan mengeksplorasi berbagai kesempatan dan kemungkinan untuk membangun dan meningkatkan tradisi ilmiah guru di Indonesia,” ujarnya. Program Spesialis Pendidikan Kantor UNESCO Jakarta Anwar Alsaid mengatakan,berdasarkan estimasi Institut Statistik UNESCO, padaperiode2007–2015dibutuhkan sebanyak 10 juta guru yang harus direkrut untuk pendidikan dasar saja. Hal ini, kata dia, merupakan tantangan yang dihadapi oleh banyak negara di dunia.“Untuk menyikapi gap ini, kita tidak hanya melihat pada kebutuhan dan distribusi guru saja, tetapi juga pelatihan, dukungan,dan kondisi kerja untuk guru,”katanya.

Guru Besar Universitas Negeri Jakarta Arief Rachman menyampaikan, kebiasaan-kebiasaan berpikir ilmiah di antara guru perlu dikembangkan. Caranya,kata dia,dengan secara terus-menerus membuat penelitian dan karya ilmiah. Dia mengatakan, jika di SMA ada kelompok ilmiah remaja,maka perlu ada kelompok ilmiah guru dan kelompok ilmiah dosen.“Ini semua nanti menghasilkan jurnaljurnal yang kaya.Kepala sekolah membuat kelompok-kelompok belajar di antara guru,”katanya. (hermansah)

_Seputar Indonesia_

SBY Harus Turun Tangan

SBY Harus Turun Tangan

JAKARTA(SI) – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Taufiq Kiemas (TK) menyesalkan tindakan tersangka kasus perjudian di Hotel Sultan,Raymond Teddy H,yang menggugat perdata tujuh media.

Dia menyarankan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) turun tangan menyelesaikan kasus tersebut. Menurut Taufik,tanpa bermaksud mengintervensi kasus hukum, Presiden bisa memanggil Kapolri JenderalPolBambangHendarsoDanuri dan Jaksa Agung Hendarman Supandji untuk berkoordinasi agar kasus tersebut tidak berlarut-larut. Presiden memang sudah mengimbau agar politisi tidak mengintervensi hukum, tetapi politisi mencampuri kebebasan pers bukan masalah. Tanpa kebebasan pers, tidak ada demokrasi.Taufik mengatakan,apabila turun tangan dalam masalah itu, Presiden tidak intervensi.“Presiden bisa panggil Kapolri dan Jaksa Agung untuk ditanyakan bagaimana keadaan sebenarnya. Kalau tidak dikoordinasikan, saya khawatir bisa terjadi lagi hal demikian.

Kalau ada untouchable man yang bisa bermain-main. Bukan Raymond yang kuat, tetapi polisi yang lemah,” ucap Taufik saat bertemu perwakilan pimpinan tujuh media di Gedung MPR/DPR,Jakarta,kemarin. Taufik yang didampingi Wakil Ketua MPR Hajrianto Y Thohari kemarin menerima kunjungan Pemred Harian Seputar IndonesiaSururi Alfaruq, Wapemred RCTI Putra Nababan, Wapemred Suara Pembaruan P Christian Mboeyk, Wapemred Detik.com Didik Supriyanto, Redpel Harian KompasBudiman Tanuredjo, dan Asisten Redpel RepublikaSubroto di kantornya. Taufik yang mengaku sudah mempelajari kronologi kasus tersebut menilai ada dugaan kejanggalan dalam proses hukum Raymond yang masih berjalan.

Untuk itu, demi menjaga kebebasan pers, semua pihak termasuk MPR dan khususnya Presiden SBY harus berperan aktif untuk ikut berjuang bersama- sama.“Kalau kebebasan pers saja sudah terancam,MPR juga bisa terancam,Presiden juga bisa terancam. Makanya,kita harus berjuang bersama.MPR tidak bisa membiarkan ini berlanjut,”tegasnya. Kasus ini bermula dari perkara kasus perjudian di Hotel Sultan yang menjadikan Raymond sebagai salah satu tersangka. Setelah berkasnya mondar-mandir dari penyidik Polri-kejaksaan, Raymond akhirnya dibebaskan dari tahanan karena sudah habis masa tahanannya.

Saat di luar tahanan,Raymond kemudian menggugat tujuh media massa nasional ke pengadilan negeri dengan alasan pencemaran nama baik. Raymond merasa nama baiknya tercemar karena pemberitaan tujuh media yang menyebut dirinya sebagai bandar judi pada Oktober 2008.Tujuh media yang digugat adalah Seputar Indonesia, RCTI,Suara Pembaruan,Kompas, Republika,Warta Kota,dan Detik. com.Raymond meminta tujuh media tersebut membayar ganti rugi sebesar USD16 juta.Selain pada media,Raymond juga menggugat Dewan Pers dan Markas Besar Kepolisian Negara RI (Mabes Polri) sebagai tergugat I dan II. Wakil Ketua MPR Hajriyanto Y Thohari menambahkan,upaya memojokkan pers harus dilawan secara masif oleh semua pihak.

Untuk itu, dia menyarankan agar media juga meminta dukungan kepada masyarakat sipil termasuk lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan ormas. Jika itu tidak dilawan, media bisa dituntut oleh siapa pun meski dasar pijakan dalam pemberitaan sudah jelas. “Tuntutan perdata ini merupakan lonceng kematian bagi media. Upaya memojokkan pers harus dilawan secara masif.Media harus kerja sama dan menggalang dukungan untuk melawan upaya-upaya seperti ini,”ungkapnya. Menurut politikus Partai Golkar ini, memerkarakan media baik secara pidana maupun perdata tidak sejalan dengan semangat konstitusi. Dia mengungkapkan, dalam Pasal 28 UUD 1945 secara tegas menjamin kebebasan informasi.

“Menyebarluaskan informasi berdasarkan jumpa pers dan rilis yang resmi sudah sejalan dengan konstitusi,” ungkapnya. Pemred Harian Seputar IndonesiaSururi Alfaruq mengatakan,kasus gugatan terhadap tujuh media oleh Raymond telah membuka mata publik bahwa betapa kuatnya seorang Raymond di hadapan Mabes Polri dan Kejaksaan Agung. Raymond juga seperti tidak tersentuh hukum meskipun Presiden SBY sudah memberikan pernyataan soal kasus tersebut. “Banyak tokoh yang sudah memberikan pernyataan, bahkan Presiden juga sudah,tetapi tohpernyataan para tokoh itu belum membawa pengaruh sangat signifikan. Untuk itu, kami berharap pimpinan MPR memberikan perhatian agar ini tidak menjadi ancaman yang lebih besar bagi kebebasan pers,”kata Sururi.

Redpel Kompas Budiman Tanuredjo menambahkan,salah satu kejanggalan yang terkuak di pengadilan adalah munculnya rilis Mabes Polri yang berbeda dari rilis yang diterima wartawan terkait penggerebekan perjudian pada Oktober 2008. Dalam rilis yang dimiliki wartawan, kata Budiman, Raymond disebutkan sebagai buron. Tetapi, dua tahun berikutnya saat persidangan perdata muncul di rilis yang berstempel Polri kata “buron”hilang. (rahmat sahid)
_Seputar Indonesia_

Siswa Gagal UN Butuh Konseling



Siswa Gagal UN Butuh Konseling

Palmerah, Warta Kota

SEJUMLAH 11.705 siswa SMA, SMK, dan MA di DKI Jakarta membutuhkan konseling karena tekanan mental akibat gagal lulus ujian nasional (UN). Mereka harus dibangkitkan rasa percaya dirinya agar berhasil dalam UN ulangan yang segera diikuti para siswa itu.

Menurut anggota Komisi E DPRD DKI Ichwan Jayadi, Kamis (29/4), Dinas Pendidikan (Disdik) DKI harus mengambil inisiatif untuk bisa menjembatani kebutuhan siswa gagal UN itu. "Sejumlah siswa yang gagal UN itu perlu dikumpulkan untuk mendapatkan konseling atau terapi agar bisa cepat memulihkan depresi atau stres yang dialami," katanya melalui telepon di Jakarta.

Jayadi menilai jika masalah stres itu tidak ditangani dengan baik, maka dikhawatirkan pukulan itu akan berpengaruh saat mereka mengikuti UN ulangan. Dampak psikologis itu dinilai bisa berakibat buruk, maka pencegahan harus dilakukan dengan pemberian terapi terhadap para siswa itu.

Anggota Komisi E DPRD DKI itu menilai manfaat konseling itu akan memotivasi siswa untuk belajar lebih baik pada sisa waktu yang tersedia untuk akhirnya lulus dengan nilai terbaik dalam UN ulangan mendatang.

Sementara itu, Kepala Bidang SMP/SMA Disdik DKI Amsani Idris menyatakan Disdik DKI sedang berupaya menyelidiki mengapa terjadi sejumlah siswa tidak lulus UN di DKI. "Kami berharap dengan mengetahui penyebabnya, maka bisa dicarikan solusi agar para siswa itu siap untuk menghadapi UN ulangan dengan nilai yang memuaskan," katanya.

Direktur RSUD Durensawit dr H Joni H Ismoyo SpKJ mengatakan, pihaknya siap membantu para pelajar yang baru mengalami kegagalan dalam UN. Tingkat stres dan depresi murid atas kegagalan ini tidak sama tingkatannya dan sangat tergantung siswanya. "Ada siswa yang mudah melupakan sesuatu yang terjadi, tapi ada yang butuh waktu lama pemulihannya," katanya melalui telepon.

Jenis tekanan itu, kata Joni, adalah stres ringan yang bisa diatasi oleh guru bimbingan dan penyuluhan atau orangtua siswa. "Namun ada tingkatan kondisi yang sampai tidak mau makan, susah tidur, dan lainnya. Depresi berat biasanya si penderita sering teriak-teriak dan sampai berusaha untuk bunuh diri, karena itu harus dirawat di RS," katanya seraya menyebutkan pihaknya membuka RS Durensawit untuk mengatasi sejumlah siswa yang mengalami tekanan mental akibat gagal UN. (Gede Moenanto)

Rabu, 21 April 2010

Social Control (Pengendalian Sosial)

Social Control (Pengendalian Sosial)


Manusia selalu berusaha untuk menata dan memperbaiki kehidupannya berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat karena berkaitan erat dengan nilai dan norma sosial.

Contoh-contoh dan cara pengendalian sosial :

  • Pengangguran, suatu ketika tertangkap basah mencuri sandal.

Cara Pengendalian Sosial :

Kita meyakinkan bahwa mencuri itu perbuatan yang tidak baik dan kita beri bimbingan dan nasihat agar ia tidak melakukan hal itu lagi atau menyarankannya untuk menjadi tukang koran, tukang semir sepatu dan sebagainya.

  • Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) membimbing warga masyarakat yang tinggal di pinggir hutan lindung untuk tidak menambah hutan agar tidak terjadi kerusakan hutan.

Cara Pengendalian Sosial :

Mereka dapat diarahkan dan dibimbing untuk belajar berbagai macam keterampilan home industry yang dapat menghasilkan uang dan berguna bagi masyarakat banyak. Selain itu dapat pula diberikan penyulihan tentang pentingnya hutan bagi kelangsungan hidup manusia.

  • Seorang pencopet tertangkap basah oleh masyarakat lalu dikeroyok habis-habisan.

Cara Pengendalian Sosial :

Untuk membuat pencopet tersebut kapok dengan perbuatannya, tindakan yang dilakukan masyarakat itu tidak diperkenankan secara hukum, karena main hakim sendiri.

  • Pedagang kaki lima seperti pedagang buah-buahan, pedagang sayur dan sebagainya melanggar tata-tertib karena telah berkali-kali diperingatkan tapi tidak diindahkan. Cara Pengendalian Sosial :
  • Petugas mengangkut secara paksa barang dagangannya keatas truk.

Kesimpulan

Social Control (Pengendalian Sosial) berkaitan erat dengan nilai dan norma sosial. Apabila pengendalian sosial tidak diterapkan, maka akan mudah terjadi penyimpangan dan tindak amoral lainnya. Setiap warga masyarakat yang tahu tentang aturan dan pedoman yang harus dipatuhi, senantiasa dia akan selalu berhati-hati dan menanamkannya dalam dirinya suatu tanggungjawab demi kebaikan masyarakat dan kehidupan di masyarakat.


Stratifikasi Sosial (Pelapisan Sosial)

Stratifikasi Sosial (Pelapisan Sosial)

Pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia dengan derajat yang sama, namun kenyataan di masyarakat menunjukkan adanya penghargaan berbeda terhadap kelompok individu berdasarkan sesuatu yang dihargai lebih, misalnya kekayaan, kekuasaan, keturunan (kehormatan), pendidikan dan sebagainya.


Dasar Stratifikasi

Yang dihargai oleh kelompok masyarakat sehingga ada Stratifikasi Sosial (Pelapisan Sosial) antara lain :

1) Kekayaan

Dalam masyarakat, orang kaya akan lebih dihargai dan dihormati daripada orang miskin, sehingga orang tersebut menduduki lapisan atas, dan sebaiknya. Kekayaan yang dijadikan ukuran beraneka macam bentuk perwujudannya seperti pemilikan tanah, bentuk rumah, perabotan rumah, kendaraan pribadi, perhiasan, tempat rekreasi yang dikunjungi dan sebagainya.

2) Kekuasaan

Kekuasaan ini sangat dipengaruhi oleh kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat, kekayaan yang dimiliki, kepandaian bahkan kelicikan. Anggota masyarakat yang memiliki kekuasaan dan wewenang terbesar akan menempati lapisan sosial yang paling atas, dan sebaliknya bagi anggota masyarakat yang tidak memiliki kekuasaan hanya menjadi bawahan dan akan menempati lapisan sosial yang paling bawah.

3) Keturunan (Kehormatan)

Kriteria keturunan terdapat dalam masyarakat feodal, misalnya pemakaian gelar pada keturunan raja-raja atau kaum bangsawan. Gelar Andi untuk masyarakat Bugis, Raden untuk masyarakat Jawa, Tengku untuk masyarakat Aceh dan sebagainya.

4) Pendidikan

Dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan atau pendidikan, keahlian atau profesionalisme yang dimiliki seseorang akan mendapatkan penghargaan yang lebih pada kelompoknya, misalnya Peneliti, Cendekiawan, Dokter, Hakim dan sebagainya.

Kesimpulan

Adanya penilaian yang berbeda terhadap sesuatu yang dianggap lebih, mengakibatkan timbulnya suatu pola pengelompokkan masyarakat pada status yang berbeda yang biasa disebut Stratifikasi Sosial (Pelapisan Sosial). Pelapisan sosial sudah dikenal sejak manusia menjalin kehidupan bersama, karena dalam menjalin kehidupan bersama, manusia membutuhkan penataan dan keteraturan.

Sosialisasi

Sosialisasi


Manusia adalah makhluk sosial yang mempunyai hasrat untuk bergaul dan menyatu dengan lingkungannya. Tidak ada seorang manusia yang ingin hidup menyendiri, karena itu hasrat bergaul dan menyatu dengan lingkungan merupakan hasrat alami yang dibawa sejak lahir.


Contohnya :

Seorang anak yang masih kecil akan berusaha belajar untuk mengenali lingkungannya yang dimulai dengan belajar mengenali orang tua dan saudara-saudaranya. Ia mulai belajar untuk dapat berbahasa, belajar cara makan, belajar berpakaian sendiri, belajar mandi sendiri kemudian diajari untuk hormat kepada orang tuanya yang mengajarinya untuk berlaku jujur, rajin belajar, rajin bekerja dan sebagainya. Beranjak agak besar ia berusaha untuk belajar bergaul dengan lingkungannya yang lebih luas. Ia mulai belajar bergaul dengan teman sepermainannya untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman baru.

Dalam interaksi dengan lingkungannya, si anak mulai mendapatkan kesadaran dalam dirinya sebagai pribadi. Ia dapat berperilaku sesuai dengan yang diharapkan orang lain, kemudian ia dapat lebih mengenal dirinya dalam lingkungannya dan menyesuaikan diri dengan keinginan masyarakat. Melalui proses seperti ini, lambat laun peranan yang dibawa akan membentuk kepribadiannya.

Proses belajar sampai si anak memperoleh nilai dan norma dari orang lain kemudian diamalkan, hal demikian menunjukkan bahwa anak tersebut telah melakukan sosialisasi.

Kesimpulan

Melalui sosialisasi, individu mulai menemukan nilai, norma bahkan budaya kelompoknya. Setelah itu ia berusaha untuk mempelajarinya, menerima dan menyesuaikan diri, kemudian berusaha untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan nilai, norma dan budaya tersebut yang berlaku dalam kelompoknya dan lambat laun akan merasa merupakan bagian dari kelompoknya.

Interaksi Sosial

Interaksi Sosial

Hidup ini akan terasa sepi atau kosong jika tidak ada interaksi diantara kita, karena dengan menjalankan interaksi, kita dapat berkenalan, bekerjasama, berorganisasi dan kadang bersaing untuk mendapatkan sesuatu atau juga dengan interaksi kita dapat bermusuhan dengan orang lain.

Manusia menanggapi keadaan sekitarnya dengan cara berkomunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung dan semua itu tergantung kemampuan daya rangsang atau respon seseorang terhadap stimulus dan perhatian atau interest seseorang terhadap kondisi tertentu.

Contonya diantaranya sebagai berikut :

1) Apabila dua orang bertemu interaksi sosial dimulai saat itu. Antara kedua orang tersebut bisa saling menegur, saling berbicara, berjabat tangan atau berkelahi. Walaupun orang yang bertemu muka tersebut tidak saling berbicara tetapi saling menukar tanda-tanda, interaksi sosial tetap terjadi oleh karena masing-masing sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan dalam perasaan atau saraf orang yang bersangkutan yang disebabkan misalnya oleh bau keringat, bau minyak wangi, suara berjalan dan sebagainya.

2) Dosen akan mencoba menguasai kelasnya agar interaksi sosial bisa berlangsung seimbang dengan cara memberikan kesempatan kepada mahasiswa/i untuk bertanya atau menyanggah pendapat, sehingga terjadi komunikasi beberapa arah yaitu antara dosen dengan mahasiswa/i, mahasiswa/i dengan mahasiswa/i, serta murid dengan mahasiswa/i.

3) Seorang komandan menyiapkan barisannya, memberikn aba-aba dengan gagahnya dan anggota barisannya mengikuti aba-aba tersebut sehingga menghasilkan regu barisan yang baik.

4) Kerjasama antara dua perusahaan untuk membicarakan proyek.

5) Perang antara Indonesia dengan Belanda.

Kesimpulan

Dari contoh-contoh tersebut jelaslah bahwa interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interaksi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Maka dapat dikatakan bahwa interaksi sosial adalah dasar proses sosial yang menunjuk pada hubungan sosial yang dinamis atau selalu mengalami perubahan.

Jumat, 16 April 2010

Teori Interaksionisme Simbolik, Perspektif Sosiologi Modern

“Teori Interaksionisme Simbolik, Perspektif Sosiologi Modern”


MANUSIA adalah masyarakat dalam bentuk miniatur. Ketika dia berkomunikasi dengan dirinya sendiri, dia bisa menjadi subyek dan sekaligus obyek. Dalam komunikasi itu pula, manusia berpikir, menunjuk segala sesuatu, menginterpretasikan situasi, dan berkomunikasi dengan dirinya sendiri dengan cara-cara berbeda. Berpikir berarti berbicara kepada diri sendiri, sama seperti cara kita berbicara dengan orang lain. Percakapan dengan diri sendiri sebagian besar dilakukan dengan diam. Tanpa diri sendiri, manusia tidak akan mampu berkomunikasi dengan orang lain, sebab hanya dengan itu, maka komunikasi efektif dengan orang lain bisa terjadi. Dari situ akan terdapat banyak ‘arti’. Individu yang menyampaikan ‘arti’ pada dirinya sendiri, pada saat itu juga ia memberikan ‘arti’ pada orang lain. Perasaan terhadap diri seseorang dibentuk dan didukung oleh respon orang lain. Jika seseorang konsisten menunjukkan dirinya dalam pelbagai perbedaan, maka dia juga harus menerima perlakuan orang lain sesuai yang dia berikan padanya. Jika seseorang secara konsisten ditertawakan dan diremehkan, maka tampaknya tak ada sesuatu yang lain yang dia anggap pada dirinya kecuali bahwa dirinya memang rendah. Jika seseorang kerap diabaikan –terutama di dalam situasi di mana dirinya minta untuk diperhatikan–, maka dia akan sangat yakin bahwa dirinya memang benar-benar tak berguna. Dan inilah yang dibincangkan dalam dalam teori interaksionisme simbolis.

Kesimpulan

Inti pandangan pendekatan ini adalah individu. Semua interaksi antar individu manusia melibatkan suatu pertukaran simbol. Ketika kita berinteraksi dengan yang lainnya, kita secara konstan mencari “petunjuk” mengenai tipe perilaku apakah yang cocok dalam konteks itu dan mengenai bagaimana menginterpretasikan apa yang dimaksudkan oleh orang lain. Interaksionisme simbolik mengarahkan perhatian kita pada interaksi antarindividu, dan bagaimana hal ini bisa dipergunakan untuk mengerti apa yang orang lain katakan dan lakukan kepada kita sebagai individu.


Sumber :

Riyadi Soeprapto (2002), “Teori Interaksionisme Simbolik, Perspektif Sosiologi Modern”.

Sistem Politik Indonesia

Sistem Politik

Sanur (ANTARA News) - Sekjen DPP PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo menegaskan, keputusan-keputusan kongres terutama mengenai manifesto politik dan sikap politik yang antara lain menyatakan partai tetap menjadi kekuatan oposisi, segera ditindaklanjuti dalam pergerakan politik di lapangan, termasuk melalui kiprah fraksi-fraksi di semua tingkatan di lembaga legislatif.

"Amanat Kongres ke-3 PDI Perjuangan di Bali ini memantapkan tekad kami untuk konsisten sebagai kekuatan politik yang berfungsi untuk melakukan kontrol dan penyeimbang terhadap pemerintah guna mewujudkan Indonesia yang semakin berdaulat, berdikari serta berkepribadian atau bermartabat dan berjatidiri," kata Tjahjo Kumolo kepada ANTARA di Sanur, Bali, Jumat.

Pengganti Pramono Anung di posisi sekjen itu, menyebutkan, manifesto politik dan beberapa sikap politik yang dihasilkan dalam kongres, menjadi light star atau bintang acuan dan pembimbing setiap kader dalam berkiprah menjalankan pergerakan-pergerakan serta aksi politik di mana pun mereka berada.

Kongres ke-3 PDI Perjuangan itu sendiri berakhir sehari lebih cepat dari rencana semula (6-9 April), karena klimaks pergerakan demokrasi partai telah terwujud melalui tuntasnya pemilihan sekaligus pelantikan ketua umum yang baru, yakni tetap dimandatkan kepada Megawati Soekarnoputri.

Peranan menentukan yang dimainkan beberapa tokoh dalam dunia politik Indonesia adalah produk dari budaya politik yang berkembang di dalam masyarakat Indonesia. Budaya politik itu adalah patrimonialisme, yaitu paham yang beranggapan bahwa seorang bapak (dalam kasus Megawati: seorang ibu) mendapatkan dukungan masyarakat karena daya tarik (karisma) yang dimilikinya sehingga dia didukung untuk memimpin dengan kepercayaan yang amat besar.

Kepercayaan yang amat besar ini membuat pandangan yang dianut oleh pemimpin selalu benar dan setiap orang diminta untuk mematuhi apa pun yang diputuskan oleh sang pemimpin. Dalam patrimonialisme, seorang pemimpin tidak mempunyai pesaing dan kritik tidak layak ditujukan kepada pemimpin. Bangsa Indonesia tidak bisa mengabaikan budaya tersebut.Memang idealnya pemimpin muncul secara demokratis berupa persaingan di antara sesama pemimpin sehingga pemimpin yang terbaiklah yang akan tampil sebagai pemimpin tertinggi. Pemimpin yang demokratis harus rela menerima kritik.Namun budaya patrimonialisme tersebut tidak dapat dihilangkan dalam waktu yang pendek. Barangkali diperlukan beberapa puluh tahun lagi untuk bisa menghilangkannya.


Sumber : Antara-News

Senin, 12 April 2010

Ilmu pengetahuan & Sosiologi

Ilmu pengetahuan & Sosiologi


Pengertian ilmu pengetahuan

lmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Contoh: Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi kedalam hal yang bahani (materiil saja) atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang kongkrit. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jauhnya matahari dari bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi sesuai untuk menjadi perawat.

Syarat-syarat ilmu

Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus dimana seseorang mengetahui apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
  • Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
  • Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
  • Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
  • Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

Pengertian Sosiologi

Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial. Istilah Sosiologi sebagai cabang Ilmu Sosial dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, bernama August Comtetahun 1842. Sehingga Comte dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Selanjutnya Émile Durkheim — ilmuwan sosial Perancis — yang kemudian berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology pada tahun 1876. Di Amerika Lester F. Ward mempublikasikan Dynamic Sosiology. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.

Definisi Sosiologi
Berikut ini definisi-definisi sosiologi yang dikemukakan beberapa ahli.

Pitirim Sorokin
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.

Roucek dan Warren
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.

William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf
Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.

J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

Max Weber
Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.

Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi
Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.

Paul B. Horton
Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.

Soejono Soekanto
Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.

William Kornblum
Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.

Allan Jhonson
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem tersebut.
Dari berbagai definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :
Sosiologi adalah ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini, khususnya pola-pola hubungan dalam masyarakat serta berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, empiris serta bersifat umum.

Objek Sosiologi
Obyek studi atau kajian sosiologi adalah manusia (manusia adalah multidimensi ), namun sosiologi mempelajari manusia dari aspek sosial yang kita sebut masyarakat, yakni hubungan antara manusia dan proses sebab akibat yang timbul dari hubungan tersebut. Istilah masyarakat sering digunakan untuk menyebut kesatuan hidup manusia,misalnya masyarakat desa, masyarakat kota, masyarakat Bali dan masyarakat lainnya. Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinu dan terikat oleh rasa identitas bersama. Adat istiadat : tata kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat.
Ciri-ciri masyarakat :
  • Adanya manusia yang hidup bersama yang dalam ukuran minimalnya berjumlah dua orang atau lebih.
  • Adanya pergaulan (hubungan) dan kehidupan bersama antara manusia dalam waktu yang cukup lama.
  • Adanya kesadaran bahwa mereka merupakan suatu kesatuan
  • Adanya sistem hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.
Dalam pada itu Astrid S. Susanto membedakan Obyek Sosiologi menjada dua macam yaitu :
  1. Obyek materi dari sosiologi adalah kehidupan sosial manusia, dan gejala serta proses hubungan antar manusia yang mempengaruhi kesatuan hidup bersama.
  2. Obyek Formal adalah pengertian terhadap lingkungan hidup manusia dalam kehidupan sosial, meningkatkan kehidupan harmonis masyarakatnya, meningkatkan kerja sama antar manusia.


Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu
http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi
http://organisasi.org/definisi-pengertian-sosiologi-objek-tujuan-pokok-bahasan-dan-bapak-ilmu-sosiologi

Senin, 05 April 2010

Sistem Politik

Sistem Politik

1. Pengertian sistem politik
Dalam perspektif sistem, sistem politik adalah subsistem dari sistem sosial. Perspektif atau pendekatan sistem melihat keseluruhan interaksi yang ada dalam suatu sistem yakni suatu unit yang relatif terpisah dari lingkungannya dan memiliki hubungan yang relatif tetap diantara elemen-elemen pembentuknya. Kehidupan politik dari perspektif sistem bisa dilihat dari berbagai sudut, misalnya dengan menekankan pada kelembagaan yang ada kita bisa melihat pada struktur hubungan antara berbagai lembaga atau institusi pembentuk sistem politik. Hubungan antara berbagai lembaga negara sebagai pusat kekuatan politik misalnya merupakan satu aspek, sedangkan peranan partai politik dan kelompok-kelompok penekan merupakan bagian lain dari suatu sistem politik. Dengan merubah sudut pandang maka sistem politik bisa dilihat sebagai kebudayaan politik, lembaga-lembaga politik, dan perilaku politik.
Model sistem politik yang paling sederhana akan menguraikan masukan (input) ke dalam sistem politik, yang mengubah melalui proses politik menjadi keluaran (output). Dalam model ini masukan biasanya dikaitkan dengan dukungan maupun tuntutan yang harus diolah oleh sistem politik lewat berbagai keputusan dan pelayanan publik yang diberian oleh pemerintahan untuk bisa menghasilkan kesejahteraan bagi rakyat. Dalam perspektif ini, maka efektifitas sistem politik adalah kemampuannya untuk menciptakan kesejahteraan bagi rakyat.
Namun dengan mengingat Machiavelli maka tidak jarang efektifitas sistem politik diukur dari kemampuannya untuk mempertahankan diri dari tekanan untuk berubah. Pandangan ini tidak membedakan antara sistem politik yang demokratis dan sistem politik yang otoriter.



Menurut Robert A. Dahl :

a. Definisi

“ .. As any Persistent Pattern of Human Relationships that involves, to a significant extent, control, influence, power, or authority “ .
Maksudnya : Mekanisme seperangkat fungsi atau peranan dalam struktur politik dalam hubungannya satu sama lain yang menunjukkan suatu proses yang langgeng.

b. Ciri – Cirinya

- Struktur dimaksudkan semua aktifitas yang dapat di Deservasi
- Sistem politik tidak selalu sejajar da tumbuh dengan konsep negara.
- Konsep negara tidak selalu sejajar dengan konsep negara.

c.Karakteristik
Bahwa dalam definisinya beliau menyinggung Asociation dimana salah satu bentuk Asosiasi itu ialah negara.

2. Objek politik

Objek orientasi politik dapat digolongkan dalam beberapa objek :
1. Sistem politik secara umum.
2. Pribadi sebagai aktor politik.
3. Bagian-bagian dari sistem politik yang dibedakan atas tiga golongan objek, yakni struktur khusus yang meliputi lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif, pemegang jabatan, dan proses input dan outut politik.
Secara sederhana objek-objek politik ini dibagi atas empat objek, yakni :
1. Sistem sebagai objek umum.
2. Objek-objek input.
3. Objek-objek output.
4. Pribadi sebagai objek.

3. Sistem Politik
Pada sistem politik di indonesia, peran masyarakat sangat penting dalam mengembangkan lembaga-lembaga politik formal baik di daerah maupun di pusat. Pada hakikatnya sistem politik merupakan seperangkat interakseri yang diabstraksikan dari totalitas perilaku sosial melalui nilai-nilai yang disebarkan untuk masyarakat. Suatu sistem politik diharuskan memiliki kemampuan untuk mempertahankan kehidupan, kelanggengan, berkelanjutan, mempunyai dorongan alamiah, serta bertahan dalam segala kondisi lingkungan yan menekannya sampai batas tertentu. Sistem politik identik dengan kehidupan politik masyarakat (social political life, infranstruktur) dan kehidupan politik pemerintah (governmental political life, suprakstuktur). Pemerintah dalam sistem politik merupakan mekanisme formal atau mesin resmi negara di samping pranata sosial-politik lainnya yang tidak resmi.
Prof. Pamudji mengartikan “sistem” sebagai suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks atau terorganisir, suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks atau utuh. Suatu kebulatan atau keseluruhan yang utuh, di mana di dalamnya terdapat komponen-komponen yang berhubungan satu sama lain menurut pola, tata atau norma tertentu dalam rangka mencapai suatu tujuan.
Sistem dapat pula diartikan sebagai kumpulan fakta, pendapat, keper-cayaan, dan lain-lain yang disusun dalam suatu cara yang teratur; seperti sistem filsafat. Ada jg yang mengartikan bahwa sistem selalu dimulai dari suatu tempat dan diakhiri ditempat lain pula. Kata “politik” berasal dari kata Yunani ”polis” yang berati kota yang berstatus negara/negara kota, seperti dalam Webster,s New Collegiate Dictionary, berasal dari kata “polis” yang berarti “city state” negara kota. Segala aktivitas yang dijalankan oleh polis untuk kelestariannya dan berkembangnya disebut “politike techne” (politika). Berdasarkan pengertian tersebut, politik pada hakikatnya “the art and science of government” atau seni atau ilmu memerintah.
Dlam pengertian umum, politik adalah “macam-macam kegiatan dalam suatu sistem itu”. Juga berati pengambilan keputusan mengenai apa yang menjadi tujuan sistem politik, seleksi dari beberapa alternatif dan penyusunan skala prioritas tujuan-tujuan yang telah dipilihnya. Pollitik juga merupakan proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.
Berikut ini adalah batasan sistem politik menurut para ahli politik.
a) Rusandi Simuntapura.
Sistem politik ialah mekanisme seperangkat fungsi atau peranan dalam struktur politik dalam satu hubungan satu sama lain yang menunjukkan satu proses yang langgeng.
b) David Easton.
Sistem politik dapat memperkenalkan sebagai interaksi yang diabstraksikan dari seluruh tingkah laku sosial sehinga nilai-nilai dialokasikan secara otoritatif kepada masyarakat.
c) Robert Dahl.
Sistem politik merupakan pola yang tetap dari hubungan antara manusia serta melibatkan sesuatu yang luas dan berati tentang kekuasaan, aturan-aturan, dan kewenangan.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dalam sistem politik mencakup hal-hal sebagai berikut :
 Fungsi intergasi dan adaptasi terhadap masyarakat, baik ke dalam maupun keluar.
 Penerapan nilai-nilai dalam masyarakat berdasarkan kewenangan.
 Penggunaan kewenangan atau kekuasaan, baik secara sah ataupun tidak.

4. Sistem Politik Indonesia
Politik hukum baru di Indonesia mulai pada tanggal 17 Agustus 1945 (versi Indonesia). Kemerdekaan Indonesia Belanda adalah 19 desember 1949 yaitu sewaktu adanya KMB di Denhaag (Belanda).
Syarat untuk membuat atau membentuk Politik Hukum sendiri bagi suatu Negara antara lain :
1 Negara tersebut negara Merdeka.
2 Negara tersebut yang mempunyai Kedaulatan keluar dan kedalam
• Kedaulatan keluar yaitu negara lain mengakui bahwa negara kita merdeka.
• Kedaulatan kedalam yaitu kedaulatan negara diakui oleh seluruh warga negara.
3 Ada keinginan untuk membuat hukum yang tujuannya untuk mensejahterakan Masyarakat.
Sumber-sumber hukum bagi Politik antara lain :
1. Konstitusi
2. Kebajiakan (tertulis atau undang-undang)
3. Kebijakan tidak tertulis atau tidak.
Antara lain :
1. UUD 1945
2. Perbidang atau perlapangan hokum
3. Kebijakan tidak tertulis dengan hukum adatnya.
Bagi Indonesia politik Hukum dicantumkan dalam :
1. Konsitusi = garis besar politik Hukum.
2. UU = ketentuan Incroteto = ketentuan yang berlaku.
3. Kebijaksanaan yang lain = pelengkap untuk pemersatu.
4. Adat = Berupa Nilai.
5. GBHN = Berupa Program.
6. Hukum Islam , yang diambil adalah nilainya.
Sedangkan dari sisi produk Perundang-undangan. Terjadi perubahan Politik Hukum, yakni dengan dikeluarkannya beberapa UU yang semula belum ada, yakni :
1. UU No 14 tahun 1970 Tentang ketentuan kekeuasaan kehakiman.
2 UU No 5 Tahun 1960 Tentang ketentuan pokok Agraria.
3 UU lingkungan Hidup.
4 UU Perburuhan.
5 UU Perbankan dan sebagainya.
Dalam Hukum Indonesia menyatakan bahwa :
 Hukum Indonesia harusnya menuju “Hukum Yang Mandiri” dan jangan hanya menjadi tambahan saja bagi Hukum Belanda di Hindia Belanda.
 Ideaalnya, sejak Tahun 1945 Indonesia sudah memiliki Politik Hukumnya sendiri yang sesuai denganSistem Politik di Indonesia.

Selasa, 30 Maret 2010

Struktur Sosial & Perubahan Sosial

Struktur Sosial & Perubahan Sosial

1. Pengertian pelapisan sosial, lapisan masyarakat, sistem stratifikasi masyarakat & mobilitas sosial.
Pelapisan sosial
Secara etimologis, stratifikasi sosial berasal dari kata “Stratum” (tangga) yang berarti lapisan, sedangkan secara sosiologis stratifikasi sosial berarti pembedaan penduduk/masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat. Perwujudannya di dalam masyarakat yaitu adanya kelas tinggi (upper class), kelas menengah (middle class) dan kelas bawak (lowerclass).
Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat).
Pelapisan sosial merupakan perbedaan tinggi dan rendahnya kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompoknya, bila dibandingkan dengan posisi seseorang maupun kelompok lainnya. Dasar tinggi dan rendahnya lapisan sosial seseorang itu disebabkan oleh bermacam-macam perbedaan, seperti kekayaan di bidang ekonomi, nilai-nilai sosial, serta kekuasaan dan wewenang

Definisi sistematik mengenai Pelapisan sosial antara lain dikemukakan oleh :
a) Pitirim A. Sorokin bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut strata sosial.
b) P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan. Istilah stand juga dipakai oleh Max Weber.


Lapisan Masyarakat
Di kalangan para ahli sosiologi kita menjumpai keanekaragaman dalam penentuan jumlah lapisan sosial. Ada yang merasa cukup dengan klasifikasi dalam dua lapisan. Marx, misalnya membedakan antara kelas Borjuis dan Proletar, Mosca membedakan antara kelas berkuasa antara kelas yang berkuasa dan kelas yang dikuasi, banyak ahli sosiologi membedakan antara kaum elite dan massa, antara kaya dan orang miskin.
Sejumlah ilmuwan sosial membedakan antara tiga lapisan atau lebih. Kita sudah sering menjumpai, misalnya, pembedaan antara kelas atas, menengah dan kelas bawah. Warner bahkan merinci tiga kelas ini menjadi enam kelas, kelas atas atas (upper-upper), atas bawah (lower upper), menengah atas (upper middle), menengah bawah (lower middle ), bawah atas (upper lower), dan bawah bawah (lower- lower).
Pada umumnya warga lapisan atas (upper class) tidak terlalu banyak apabila dibandingkan dengan lapisan menengah (middle class) dan lapisan bawah (lower class) yang apabila digambarkan berwujud seperti piramida diatas. Gambaran yang sederhana tersebut di atas merupakan gejala umum yang kadangkala mempunyai pengecualian.
Sistem stratifikasi masyarakat
Dilihat dari sifatnya, pelapisan sosial dibedakan menjadi dua macam, yaitu sistem stratifikasi tertutup (closed social stratification) dan sistem stratifikasi terbuka (open social stratification).
1) Sistem stratifikasi tertutup (closed social stratification) adalah stratifikasi di mana anggota dari setiap strata sulit mengadakan mobilitas vertikal, walaupun ada mobilitas, mobilitasnya bersifat horizontal. Karena itu stratifikasi sosial ini bersifat diskriminatif. Misalnya, sistem kasta pada masyarakat Hindu, jenis kelamin, masyarakat apartheid, masyarakat yang rasialis dan masyarakat feodal.
2) Sistem stratifikasi terbuka (open social stratification) adalah setiap anggota strata dapat bebas melakukan mobilitas sosial, baik vertikal maupun horizontal. Walaupun kenyataannya dalam mobilitas sosial vertikal harus melalui perjuangan berat namun kemungkinan untuk berpindah strata selalu ada. Misalnya, orang miskin yang berusaha menjadi kaya.
3) Sistem stratifikasi campuran adalah kombinasi antara stratifikasi tertutup dan terbuka. Misalnya, seorang anggota kasta Brahmana mempunyai kedudukan terhormat dan sangat dihargai oleh masyarakat lingkungannya, tetapi apabila ia pindah ke Jakarta, ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat yang baru sehingga ia akan diperlakukan sesuai kedudukannya di tempat yang baru.
Mobilitas sosial
Mobilitas sosial berasal dari bahasa latin, mobilis yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Jadi mobilitas sosial adalah perpindahan posisi seseorang atau kelompok dari strata sosial yang satu ke strata sosial lainnya dalam masyarakat. Mobilitas vertikal mengacu pada mobilitas keatas atau kebawah dalam stratifikasi sosial.
Menurut Giddens (1989) ada yang dinamakan lateral mobility yang mengacu pada perpindahan Geografis antara lingkungan setempat, kota dan wilayah.
Menurut Ransford (1980) Mobilitas sosial dapat mengacu pada individu maupun kelompok. Contoh mengenai mobilitas soaial individu ialah perubahan status seseorang dari seorang tukang menjadi seorang dokter, sedangkan mobilitas suatu kelompok terjadi manakala suatu minoritas etnis atau kaum wanita mengalami mobilitas, misalnya mengalami peningkatan dalam penghasilan rata-rata bila dibandingkan dengan kelompok mayoritas.
Suatu pokok bahasan yang banyak mendapat perhatian ahli sosiologi ialah masalah mobilitas intergenerasi dan mobilitas antargenerasi.
a) Mobilitas intergenerasi megacu pada mobilitas sosial yang dialami sesesorang dalam masa hidupnya, misalnya dari status asisten dosen menjadi guru besar, atau dari perwira pertama menjadi perwira tinggi.
b) Mobilitas antargenerasi, dilain pihak mengacu pada perbedaaan status yang dicapai seseorang dengan status orangtuanya misalnya anak seorang tukang sepatu yang berhasil menjadi seorang insinyur, atau anak mentri yang menjadi pedagang kaki lima.
2. Pengertian perubahan sosial, bentuk-bentuk perubahan sosial & faktor-faktor perubahan sosial
Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalam nilai-nilai, sikap-sikap dan pola prilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial
Bentuk-bentuk perubahan social antara lain adalah :
1. Perubahan lambat dan perubahan cepat.
2. Perubahan kecil dan perubahan besar.
3. Perubahan yang dikehendaki atau perubahan yang direncanakan dan perubahan yang tidak dikehendaki atau perubahan yang tidak direncanakan.

Faktor-Faktor Perubahan Sosial
Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan adalah:
1 Sebab yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri :
a) Bertambah atau berkurangnya penduduk.
b) Penemuan-penemuan baru.
c) Pertentangan-pertentangan dalam masyarakat.
d) Terjadinya pemberontakan atau revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri.
2 Sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat :
a) Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan fisik yang ada di sekitar masyarakat
b) Peperangan dengan negeri lain
c) Pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

3. Perubahan sosial abad 20
Perubahan sosial yang terjadi di kota Bandung
Perubahan sosial yang terjadi di kota Bandung pada periode 1810 – 1906, menarik dan penting untuk dikaji karena beberapa alasan. Pertama, masalah itu belum ada yang membahas secara khusus, mendalam, dan menyeluruh. Tulisan tulisan tentang sejarah kota Bandung abad ke-19 yang telah ada, pada umumnya berupa penggalan-penggalan yang lebih menonjolkan aktivitas/peranan orang-orang Belanda/Eropa di Bandung, sedangkan aktivitas/peranan orang pribumi belum banyak terungkap. Kedua, dalam periode tersebut kota Bandung memiliki berbagai fungsi yang menyebabkan terjadinya perubahan. Fungsi yang menonjol adalah fungsi sebagai ibukota kabupaten (1810 – 1864); sebagai ibukota keresidenan merangkap fungsi pertama (1864 – 1884), termasuk sebagai pusat pendidikan pribumi di Jawa Barat (sejak pertengahan tahun 1866); sebagai sebagai pusat pendidikan pribumi di Jawa Barat (sejak pertengahan tahun 1866); sebagai pusat transportasi kereta api “Jalur Barat” (1884 – 1906), dan sebagai gemeente (kota berpemerintahan otonom,awal tahun 1906).

Koperasi sebagai gerakan perubahan sosial
Peradaban terus mengalami perubahan seiring dengan perkembangan pemikiran manusia. Begitu juga dengan ide dasar koperasi sebagai produk budaya. Eksistensinya tak dapat dilepaskan dari sejarah panjangnya sebagai sebuah gerakan perubahan sosial (social change movement) melawan pemerasan, kebodohan, kemiskinan, dominasi, persaingan bebas dan berbagai bentuk eksploitasi kemanusiaan lainnya.Adalah abad 18, abad ini dapat dikatakan sebagai abad perubahan sosial, ekonomi dan teknologi bagi negara-negara Eropa Barat (terutama Inggris Raya). Di dorong oleh lingkungan liberal yang terinpirasi dari gagasan Adam Smith dalam karyanya yang terkenal “An inquiry into the nature and cause of the wealth of Nations” (1776), semangat kapitalisme feodal pada waktu itu tumbuh dengan subur. Dimana kebebasan individu dijamin seluas-luasnya bagi tujuan kemakmuran dalam semangat “laizess faire”. Kaum kapitalis yang sejak awal telah memiliki akses terhadap sumberdaya lebih banyak cenderung mempunyai kebebasan lebih banyak; sedangkan kaum buruh, petani dan perajin rumah tangga dalam kedudukan yang lemah. Sistem “laizess faire ” ini telah mendatangkan kepincangan sosial dimana yang kaya makin kaya dan yang miskin makin tertindas.

Daftar Pustaka
Tim MGMP Sosiologi DKI Jakarta (1999). Modul Sosiologi. Jakarta.
Sunarto, Kamanto.1993.Pengantar sosiologi. Jakarta : Fakultas ekonomi Universitas Indonesia.
Soekanto, soerjono.1982. Sosiologi suatu pengantar, Jakarta.
http://politikana.com
http://one.indoskripsi.com